Monday, December 21, 2009

Google Wave dan Jurnalisme Baru

Sekelompok orang pengembang dan pengguna situs web menemukan sesuatu yang baru: Google Wave. Inilah perkembangan penting untuk mengakhiri jalur satu arah dalam dunia internet, terutama situs web.

Siapa saja sekarang bisa campur tangan dalam isi situs web tertentu.

Berikut sebuah contoh dari praktek. Pemerintah memutuskan bahwa di dalam paspor Belanda juga harus dimuat sidik jari pemiliknya. Tidak semua konsulat Belanda di luar negeri bisa mengeluarkan paspor yang memuat sidik jari itu. Orang Belanda marah-marah.

Langsung bereaksi
Situs Ranesi Radio Nederland mengumumkan beberapa artikel, dan pembaca bisa bereaksi. Beberapa bulan kemudian, artikel yang bersangkutan sudah sulit ditemukan dan reaksinya tetap yang itu-itu saja. "Google Wave menyimpan informasi yang tidak berkaitan itu dalam satu dokumen dan itu lebih cepat dan lebih bisa dilihat dalam satu forum, rubrik chat atau reaksi," demikian Richard Osinga, pengembang situs web pada perusahaan Oberon Interactive di Amsterdam. "Google Wave adalah cara publikasi baru. Seseorang bisa membangun situs mini baru tentang topik tertentu," kata Henk van Ess, seorang wartawan peneliti dan pelatih internet.

Van Ess dan Osinga termasuk sedikit kalangan yang sejak Mei lalu menguji Google Wave sambil mengembangkan penerapannya. "Perubahan terpenting dalam Google Wave adalah bahwa sebuah dokumen tidak lagi berada dalam satu komputer, tetapi dalam server tertentu. Karena itu dokumennya bisa dibuka oleh siapa saja yang sibuk dengannya. Mereka tidak perlu saling mengirim perubahan, tetapi bisa langsung mengolah dokumen yang ada dalam browser manapun," demikian Richard Osinga. "Orang bisa sangat menghemat waktu, kalau pada saat yang sama bisa menggarap artikel tertentu, tanpa harus rapat dahulu," tambah Henk van Ess.

Jurnalisme baru
Osinga berharap bahwa Google Wave pada awalnya akan digunakan untuk dokumen dan pembelian bersama melalui situs web. Perusahaannya mengembangkan sebuah aplikasi sehingga beberapa orang secara serempak bisa berunding dalam situs penjual, seperti Marktplaaats, tentang pembelian satu barang tertentu. Tetapi masih banyak penerapan lain katimbang hanya untuk berdagang lewat internet. "Pada akhirnya akan timbul jurnalisme baru," begitu ramalan Richard.

Kembali ke praktek. Situs Radio Nerland mengundang beberapa pakar dan orang Belanda di luar negeri untuk ambil bagian dalam Wave tentang masalah paspor baru. Pembaca biasa bisa mengikuti diskusi mereka pada saat itu juga. Termasuk salah eja yang mungkin muncul. Tak lama kemudian dokumen itu akan masuk arsip situs Radio Nederland. Campur tangan redaksi masih tetap diperlukan supaya tulisan itu bisa dibaca orang lain. Jurnalis yang bersangkutan merangkum dan menghilangkan topik-topik yang tidak perlu serta omong kosong lainnya.

"Diharapkan pakar bersangkutan bersedia terus ikut membaca dan memberi tanggapan," ujar pelatih internet Henk van Ess. Tapi baginya sejumlah Waves yang bagus sama seperti karya jurnalisme yang baik.

Playback
Rangkuman itu dapat diperiksa kembali berkat apa yang disebut fungsi playback. Fungsi itu memaparkan perkembangan sebuah artikel: siapa pembuat Wave, bagaimana perkembangannya dan kesimpulan apa saja yang muncul daripadanya. "Terutama kalau berita berkembang cepat, playback merupakan fungsi penting," kata Osinga. "Kesimpulan bisa berbeda dari titik tolaknya. Kecelakaan ternyata sebuah serangan."

Lebih dari sekedar teks
Wave menawarkan lebih dari sekedar teks saja. Peserta bisa menambahkan film, foto, peta dan bahkan jajak pendapat, ujar Richard Osinga penuh semangat. "Sumatra Barat dilanda gempa bumi. Radio Nederland membuat Wave tentangnya. Koresponden membuat film. Warga setempat memasang foto rumah mereka yang hancur. Seorang pakar gempa menjelaskan penyebabnya." Dan jika di tengah diskusi itu, gelombang pasang melanda pulau tersebut, maka akan ditambahkan tanggapan pakar tsunami.

Memang ini akan merupakan tantangan bagi para wartawan. Bisa saja seorang peserta, sementara diamati banyak orang, menulis bahwa seorang penanggap menulis omong kosong. Tapi justru itulah yang bisa menghasilkan hubungan baik antara wartawan dan non-wartawan, menurut Henk van Ess.

Wavekan artikel ini
Tapi terlalu banyak peserta juga tidak baik. "Wave yang terbuka untuk umum, siapa saja bisa ikut, lambat laun ini bisa menjadi semacam chatbox. Itu tidak menarik," ujar Richard Osinga. "Akan makan terlalu banyak waktu untuk membaca begitu banyak penyesuaian." Dan untuk chat tersedia sarana-sarana lain. Henk van Ess menghadapi masalah serupa. Menurutnya peserta harus diberi status. "Pakar diberi status lebih tinggi ketimbang orang yang tidak memberi nilai tambahan."

Google berharap, mulai tahun depan bisa membuka Wave untuk kalangan luas. Van Ess berharap Wave akan tersedia bagi publik sama lengkapnya seperti bagi kelompok penguji. Di masa mendatang, setiap orang bisa membuat Wave. Emailkan artikel ini nanti akan berubah menjadi Wavekan artikel ini. "Di mana-mana terciptalah dokumen-dokumen hidup tentang sebuah naskah yang ditulis oleh seseorang," ujar Osinga.

Sumber :
Willemien Groot
http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia/article/google-wave-dan-jurnalisme-baru
12 Oktober 2009

No comments:

Post a Comment

Post a Comment